Hanzhalah

Ti Wikipédia Sunda, énsiklopédi bébas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Panneau travaux.png Artikel ieu keur dikeureuyeuh, ditarjamahkeun tina basa Indonesia.
Bantosanna diantos kanggo narjamahkeun.

Hanzhlah nama lengkapnya ialah, Hanzhalah bin Abi Amir bin Shaifi bin Zaid bin Umayyah bin Dhabi’ah. Beliau dari Bani Amr bin Auf yang merupakan bagian dari kabilah Aus, salah satu dari dua kabilah di Madinah yang disebut Al Anshar.[1]

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok-sosok terbaik dari umat ini. Allah pilih mereka untuk menemani dan menyertai Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam membangun sendi-sendi dakwah Islam. Mereka pula rawi-rawi terpercaya yang menjadi sebab tersampaikannya khazanah ilmu Islam kepada kita. Tanpa sebab mereka, kita buta. Tanpa sebab mereka kita tak mengerti bagaimanakah semestinya menjalani hidup di dunia.[1]

Dengan demikian, mencintai seluruh sahabat Nabi pun menjadi sebuah keniscayaan. Bersihnya kalbu dan lisan dari rasa benci dan celaan terhadap mereka adalah kewajiban. Dan mengkaji kisah hidup mereka juga suatu kemestian bagi setiap orang yang menginginkan teladan. Karena kita yakin, mereka benar-benar generasi pilihan yang Allah gariskan untuk menyertai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebaik-baik hamba Ar-Rahman.[1]

Hanzhalah bin Abi Amir Al Anshari Al Ausi tercatat sebagai salah satu dari mereka. Sebagaimana sahabat-sahabat Nabi yang lainnya, termuat dalam biografi beliau banyak sekali hikmah dan pelajaran berharga yang dapat kita petik. Berikut uraian singkat tentang pribadi dan keutamaan beliau, serta sebagian dari apa yang beliau alami semasa hidupnya.[1]

Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah dari Mekah dan tiba di kota Madinah, kaum Al Anshar menyambut beliau dengan penuh kegembiraan, dan sebagian dari mereka yang belum berislam pun menyatakan keislaman. Di antara mereka adalah Hanzhalah. Dia berislam dan bagus keislamannya.[1]

Malam hari menyelimuti kota Madinah, bintang-bintang bertaburan membawa keheningan dan ketenangan bagi seluruh alam yang lelah oleh kesibukan siang dan letih oleh aktifitas di muka bumi. Nyanyian sore mengalun meniup lirih kelopak mata untuk memasuki alam mimpi yang indah. Malam membawa kita kepada sebuah perasaan khusus, seolah ala mini milik kita semata. Malam membebaskan ruh seorang mukmin supaya jernih sedikit demi sedikit, sehingga ia pun bisa menyatu dengan kekhusyuan yang mendalam merenungi penciptanya, bersuci dan bersujud di hadapan-Nya.[2]

Pertemuan Ataukah Perpisahan[3][édit | édit sumber]

Takdir Allah Ta’ala mengantarkan Hanzhalah kepada kebaikan, menikah dengan kekasihnya Jamilah dimana pagi harinya Perang Uhud menawarkan sesuatu antara benci dan cinta. Keengganan berpisah dari kekasihnya dan kerinduan akan pahala syuhada dan gugur di medan jihad meninggikan kalimat Allah. Hanzhalah pun bermalam bersama istrinya, ia tidak tahu pasti apakah ini pertemuan atau perpisahan bersama sang kekasih.[4]

Betapa manisnya hari itu, betapa indahnya pernikahan hari itu. Aroma harum menghiasi detik demi detik, rahasia apa yang tersembunyi di balik hari itu bagi Hanzhalah radhiallahu ‘anhu dan istrinya yang dipenuhi kerinduan. Air mata bahagia pun menetes tak terasa. Ia memeluk sang kekasih seperti seorang tamu yang hendak pergi, seperti khayalan yang dilihatnya, sementara ia tidak memilikinya. Hanzhalah radhiallahu ‘anhu terlihat seperti langit, dekat tapi jauh.[5]

Hanzhalah menyatukan cintanya yang kecil dengan cinta yang besar, agar bisa memberinya kebesaran dan kehormatan. Dia memeluknya, agar cinta dari langit yang kekal menyatu dengan cinta manusiawinya yang fana, maka masuklah kekekalan dan keadabian. Hanzhalah radhiallahu ‘anhu mengaktifkan perhitungan dan perbandingan emosional itu di hati dan pikirannya. Dia mengambil keputusannya dengan cepat seiring hembusan fajar. Manakala dia menyimak panggilan jihad, dia pun keluar dengan segera.[6]

Dalam keadaan junub, tidak menunggu mandi, dia bangkit di tengah air mata sang kekasih dan kerinduan hati yang haus akan pandangan istri tercinta. Dia bangkit, sementara kerinduan masih berdenyut seiring detak jantungnya. Rindu kepada saat-saat bertemu yang kemudian berlalu begitu saja dan berubah menjadi angan-angan semata.[7]

Hanzhalah berangkat. Dia telah menjadikan hawa nafsunya seperti tanah yang terinjak oleh kakinya. Cinta yang besar mengalahkan semuanya. Hanzhalah menang melawan dirinya, Hanzhalah menang atas Hanzhalah.[8]

Hanzhalah Gugur sebagai Syahid[9][édit | édit sumber]

Kurang lebih tiga tahun berselang, sejak Hanzhalah pertama kali merasakan manisnya iman dan melihat indahnya menjalani syariat Islam. Hidup bersama manusia-manusia pilihan dengan teladan seorang utusan kepada seluruh alam, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah takdirkan kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy berperang.[9]

Terabadikan pada bulan Syawal tahun ketiga hijriyah, pecah pertempuran Uhud antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy di kaki bukit Uhud yang berjarak 5 mil dari Masjid Nabawi. Pasukan Quraisy datang untuk membalas dendam atas korban-korban mereka yang terbunuh pada perang Badar setahun silam.[9]

Di awal-awal pertempuran seolah kemenangan telah terjanjikan untuk pasukan Islam. Namun alur cerita berbalik di akhirnya. Kenyataan pahit mesti dirasakan oleh pasukan muslim kala itu. Kekalahan harus diterima oleh kaum muslimin dengan sabar. Hanzhalah pun ikut gugur di antara ketujuh puluh syuhada. Hanzhalah dibunuh oleh Syaddad ibnul Aswad yang juga dikenal dengan Ibnu Sya’ub Al Laitsi.[9]

Runut cerita, saat berjumpa dengan pasukan musuh di medang perang, Hanzhalah segera melaju cepat ke depan. Dia terus membelah barisan musuh hingga mencapai letak Abu Sufyan Shakhr bin Harb, komandan pasukan lawan. Hanzhalah berhasil menghempaskannya ke tanah dan hampir membunuhnya. Tapi siapa sangka, justru Hanzhalah yang terbunuh dengan tebasan pedang Syaddad ibnul Aus yang datang seketika.[9]

  1. a b c d e "Hanzhalah bin Abi Amir". Kajian Islam. http://www.ilmusyari.com/2017/02/hanzhalah-bin-abi-amir.html. Diakses pada 2017-12-13 
  2. "Hanzhalah, Sang Pengantin Langit | Cerita kisah cinta penggugah jiwa". kisahmuslim.com (dalam en-US). Diakses tanggal 2017-12-13. 
  3. "Hanzhalah, Sang Pengantin Langit | Cerita kisah cinta penggugah jiwa". kisahmuslim.com (dalam en-US). Diakses tanggal 2017-12-13. 
  4. "Hanzhalah, Sang Pengantin Langit | Cerita kisah cinta penggugah jiwa". kisahmuslim.com (dalam en-US). Diakses tanggal 2017-12-13. 
  5. "Hanzhalah, Sang Pengantin Langit | Cerita kisah cinta penggugah jiwa". kisahmuslim.com (dalam en-US). Diakses tanggal 2017-12-13. 
  6. "Hanzhalah, Sang Pengantin Langit | Cerita kisah cinta penggugah jiwa". kisahmuslim.com (dalam en-US). Diakses tanggal 2017-12-13. 
  7. "Hanzhalah, Sang Pengantin Langit | Cerita kisah cinta penggugah jiwa". kisahmuslim.com (dalam en-US). Diakses tanggal 2017-12-13. 
  8. "Hanzhalah, Sang Pengantin Langit | Cerita kisah cinta penggugah jiwa". kisahmuslim.com (dalam en-US). Diakses tanggal 2017-12-13. 
  9. a b c d e "Hanzhalah bin Abi Amir". Kajian Islam. http://www.ilmusyari.com/2017/02/hanzhalah-bin-abi-amir.html. Diakses pada 2017-12-13