Pedang: Béda antarrépisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
2 bita ditambahkeun ,  5 tahun yang lalu
m
→‎Zaman Besi: Ngarapihkeun éjahan, replaced: sejen → séjén
m (Ngarapihkeun éjahan, replaced: nyaeta → nyaéta, nya éta → nyaéta, make → maké , ea → éa (3), Kusabab → ku sabab using AWB)
m (→‎Zaman Besi: Ngarapihkeun éjahan, replaced: sejen → séjén)
Kemudian para penempa mempelajari bahwa menambahkan sejumlah karbon ( dimasukkan pada saat peleburan dalam bentuk bebatuan ) kedalam besi, mereka dapat membuat logam yang lebih baik ( sekarang dikenal dengan sebutan "besi baja" ). Beberapa metoda yang berbeda dalam pembuatan pedang telah ada dalam masa lalu, termasuk, yang paling terkenal, pembentukan pola. Selanjutnya, metode yang berbeda berkembang di seluruh dunia.
 
Ketika memasuki zaman klasik antik dan bangsa Parthia dan Sassanid di Iran, pedang besi sudah menjadi umum. Xiphos dari yunani dan [[Gladius]] dari Romawi adalah contoh sejenisséjénis, memiliki panjang 60–70 cm. Kekaisaran Roma akhir memprkenalkan Spatha yang lebih panjang ( istilah untuk pemakainya, spatharius, menjadi pangkat kerajaan di Konstantinopel ), dan mulai saat itu, istilah "pedang panjang" dialamatkan pada pedang yang termasuk panjang dalam periode ini.
 
Pedang baja China muncul pada masa abad ke 3 SM Dinasti Qin. [[Dao]] dari china ( piyin dāo )adalah pedang bermata satu, terkadang diterjemahkan sebagai ''sabre'' atau ''broadsword'', dan [[Jian]] ( piyin jiān ) bermata dua.
20.027

éditan

Menu navigasi